Connect with us

Artikel

10 Manfaat Berkemah

Published

on

  1. Memberikan kegembiraan diri karena kesenangan akan menghadapi situasi yang lain daripada situasi di rumah dengan udara segar dan cengkerama teman.
  2. Diri menjadi produktif karena akan bangun lebih pagi dan usaha untuk memperbaiki tenda dan situasinya.
  3. Memupuk setia kawan karena akan bersama dengan regu atau sangga dalam satu tenda yang memberikan serba-serbi kebiasaan teman.
  4. Memberikan kesegaran diri karena berada dalam situasi lain sehingga memunculkan warna baru dan kreativitas baru.
  5. Menyehatkan diri karena akan banyak bergerak, menghirup udara segar, dan memandang aneka warna tumbuhan dan alam.
  6. Memupuk disiplin diri karena akan mendapatkan aturan perkemahan yang bertujuan agar mencapai tujuan berkemah.
  7. Menghilangkan stres karena akan meninggalkan pikiran biasanya ketika di rumah, di tempat kerja, atau di sekolah dengan pikiran yang lebih fres.
  8. Menambah keterampilan diri karena akan menghadapi situasi yang baru seperti memasak, membersihkan tenda dan lingkungannya, memasang pagar, menata sepatu, menggelar tikar, ronda malam, dan seterusnya.
  9. Memberikan inspirasi baru seperti tulisan, puisi, desain tertentu karena berada dalam kondisi baru dan lebih tenang.
  10. Meningkatkan rasa bersyukur karena menghadapi ciptaan Tuhan yang sangat fantastis dan beraneka corak sehingga saling melengkapi.
    Selamat Berkemah. (#pusdiklatnas)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel

Ikut Serta Membangun Masyarakat

Published

on

Oleh : Rusmana Indra Martha

Seorang Pramuka memiliki Janji dan Sikap / Perbuatan yang menjadi kode kehormatan dalam melangkahkan kaki di bumi Nusantara. Sikap / perbuatan tersebut ada di dalam janji yang diucapkan saat pelantikan, yaitu menepati dasa dharma.

Dalam tri satya, ada sebuah kalimat yang tertulis, yaitu “mempersiapkan diri membangun masyarakat” untuk kemudian ketika sudah menjadi Pramuka Penegak/Pandega menjadi “ikut serta membangun masyarakat”. Hal ini yang harus diprioritaskan, apalagi saat seperti ini di mana kondisi alam yang tidak stabil.

Pramuka Penegak dan Pandega diharapkan memiliki daya kritis yang memang mumpuni, memiliki ide dan saran yang mampu membangun masyarakat disekitarnya menjadi lebih baik. Salah satu cara menyampaikan ide, saran, dan kemampuan berpikir kritisnya adalah dengan berkomunikasi dan menyampaikan kepada masyarakat umum.

Oleh karena itu, hari ini Pramuka Unindra mengadakan kegiatan Pelatihan Public Speaking untuk mempersiapkan diri anggotanya agar nanti dapat ikut serta membangun masyarakat dan lingkungannya. Pengurus Ambalan mengundang secara khusus saya untuk membersamai anggota Pramuka Unindra mempersiapkan “soft skill” (kemampuan komunikasi lisan) ini.

Sungguh, hari ini benar-benar membahagiakan karena dapat membersamai anak-anak muda yang suka belajar dan menyediakan waktu liburnya untuk belajar. Anak muda adalah generasi penerus dan harapan negeri ini ke depannya. Mari, ikut serta membangun jiwa dan badan masyarakat bangsa ini.

#imr @ Unindra PGRI Jakarta

By. K Zhe

Continue Reading

Artikel

ARTEFAK ITU WAJIB ADA

Published

on

Oleh Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.
Guru Besar Universitas Negeri Surabaya
Waka Binawasa Kwarnas

Dunia berkembang sampai saat ini diakibatkan oleh artefak yang dihasilkan manusia untuk kemudahan hidupnya dan generasi berikutnya. Lihat saja, untuk memudahkan makan, manusia berinovasi menciptakan piring, sendok, garpu, mangkok, periuk, tungku, magicjar, irus, kuali, wajan, panci, dan seterusnya. Hasil inovasi itulah disebut artefak yang mewarisi kemudahan hidup manusia berikutnya. Lalu, hasil inovasi tersebut dikreasi menjadi aneka model piring, ragam bentuk panci, dan seterusnya. Artefak menjadi wajib ada untuk kehidupan yang lebih baik.

Artefak sebagai jejak mahakarya manusia tidak saja berupa benda tampak. Artefak juga berupa benda tak tampak, yakni norma, adat, adab, dan kebiasaan baik turun temurun. Artefak tak benda juga diciptakan untuk kehidupan manusia agar lebih baik.

Artefak dianggap penting bagi manusia karena memunyai unsur kemudahan, kecepatan, inspirasi, dan kecerdasan. Unsur tersebut terurai atas keperluan manusia untuk menjadi baik. Di setiap sudut kehidupan manusia, ada artefak yang terkadang khas bagi daerah tersebut. Jangan kaget, jika di sebuah daerah ditemui bentuk ukiran yang khas, batik unik, alat bersawah yang beda, lagu yang khas, dan sebagainya. Begitu pula, artefak tak benda memunyai ciri unik dibandingkan dengan yang lainnya. Di Indonesia, ada artefak yang sangat khas, yang masih bisa dinikmati. Ada artefak Badui, Tengger, Osing, Dayak, Batak, Merangin, Rote, Asmat, dan masih banyak yang lain. Itu semua artefak sebagai jejak inovasi masyarakat manusia waktu itu.

Sebagai makhluk hidup yang dibekali ragam kecerdasan, manusia tentu akan terus berinovasi dengan lebih beragam, lebih baru, dan lebih unik. Manusia akan semakin diglamori oleh banyak temuan baru. Betapa tidak. Sarana untuk temuan baru semakin lengkap dan memudahkan manusia berinovasi. Dahulu, ukiran dibuat dengan tangan dan memakan waktu lama. Artefak ukir terwujud melalui waktu dan pengerjaan yang rumit. Sekarang, ukiran serumit dan sedetail apapun dapat dibuat dalam hitungan menit akibat temuan mesin ukir. Hasilnya lebih halus dan unik dibandingkan karya tangan masa lalu. Begitu pula, penciptaan artefak bidang lain dapat diproses dalam waktu cepat. Yang diperlukan saat ini adalah imajinasi dan inspirasi hasil baru atau hasil inovasi karena proses dapat dipermudah dan dipercepat.

Multikecerdasan manusia, yang terbeber menjadi 8 jenis yakni linguistik, musik, spasial, intrapersonal, interpersonal, matematik, dan lainnya ternyata dapat terintegrasi menjadi sebuah kekuatan yang dapat menghasilkan artefak baru. Oleh karena itu, manusia sudah tidak berkutat pada latar belakang spesfikasi manusia. Sarjana pertanian ternyata dapat sukses dengan aneka artefaknya di dunia ekonomi. Sarjana ekonomi ternyata dapat berhasil di dunia budaya. Begitu pula kecerdasan yang lsinnya yang dianggap kuat ternyata dapat menginovasi bidang lain dengan kecerdasan yang lainnya. Itu artinya, multikecerdasan hanya sebatas pendeskripsi agar mudah dipahami eksplanasinya. Namun, sebenarnya, manusia mempunyai daya integrasi yang kuat.

Inovasi bukan milik sebagian masyarakat tertentu dan di daerah tertentu. Inovasi itu dapat dipunyai oleh semua manusia di mana pun berada. Ketika manusia menghadapi kesulitan hidup dan keperluan untuk menjadi baik, inovasi akan muncul. Hasil inovasi tersebut berupa artefak yang bermanfaat bagi mereka. Hasil inovasi dikembangkan dengan berbagai kreasi yang penuh penyesuaian.

Agar artefak baru dapat bermunculan dari ragam inovasi, diperlukan inivator unggul. Inovator unggul tentu tidak datang begitu saja. Inovator unggul datang dari pembiasaan yang kuat, pembudayaan yang berkelanjutan, dan pola pendidikan yang berbasis konstruksi.

Dalam setiap kesempatan, anak-anak harus dibiasakan untuk berinovasi meskipun dalam bentuk kecil dan sederhana. Umpamanya, hari ini sekelompok anak baris dalam bentuk lurus, besok buatlah barisan zigzag. Pagi ini sang pramuka memasak menggunakan parapin, besok memasaknya diubah dengan bahan bakar sampah atau yang lainnya. Pembiasaan yang berbeda-beda akan memunculkan berpikir divergen dan pada saatnya akan muncul inovasi dengan artefak baru.

Pembudayaan inovasi perlu dilakukan dengan berkelanjutan. Semua terpumpun pada budaya inovasi. Pelatih, pembina, guru, orangtua, dan lainnya berpegang teguh pada konsep inovasi. Kecerdasan anak dapat diperoleh melalui pembudayaan inovasi. Pembudayaan berkelanjutan tersebut tentu akan membingkai anak menjadi inovator yang akan menciptakan mahakarya sejalan dengan kehidupannya.

Pendidikan yang berbasis kognitif haruslah diubah menjadi pendidikan yang berbasis kobstrukstif. Anak dipacu untuk hasil. Proses akan dengan sendirinya dilalui anak untuk mendapatkan hasil. Ketika hasil diletakkan di jenjang tinggi, tentu proses akan mengikuti kerumitan jenjang yang diminta. Hasil yang dikonstruksi anak adalah lambang inovasi yang kelak menjadi artefak yang baik.

Itulah bentuk proses yang perlu dilalui untuk artefak yang baik. Bentuk tersebut adalah pembiasaan, pembudayaan, pendidikan berbasis konstruksi. Bentuk itu perlu diupayakan dalam kehidupan manusia.

Generasi baru memang penikmat artefak generasi sebelumnya. Namun, generasi baru tidak lepas dari inovasi baru dengan menghasilkan artefak unggul agar dapat hidup lebih baik. Model inovasi harus terus diajarkan. Cara praktis berinovasi juga perlu terus dilakukan. Kompetisi hasil inovasi perlu diperkuat. Kurikulum pendidikan perlu pula berpumpun pada inovasi. Inovasi harus terus berjalan. #kakyatno

Continue Reading

Artikel

MENDIKBUD BARU: ANTARA MATERIAL, MEDIA, DAN SISTEM

Published

on

Oleh Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.
(Guru Besar Universitas Negeri Surabaya)

Jika perkembangan dunia diukur dari tiga gelombang, dunia sedang berada di gelombang ketiga. Awalnya, dunia berada di gelombang pertama, yakni gelombang material. Negara hebat diukur oleh seberapa luas dan banyak daerah jajahan. Inggris, Portugis, Perancis, Belanda, dan yang lainnya, di era material tersebut dianggap negara hebat. Sampai-sampai, warga terjajah menganggap mereka bangsa nomor satu. Negara jajahan menganggap mereka lambang kesuksesan. Dunia diukur oleh jumlah materi yang diperoleh dari kuasa-menguasai. Orang hebat adalah mereka yang memunyai banyak tanah. Ia kaya raya tiada tanding.

Kemudian era tersebut, tergilas oleh gelombang media, yakni teknologi. Negara yang kaya teknologi dianggap hebat karena bisa mengalahkan negara yang kaya material. Jepang mambumbung tinggi kehebatannya, meskipun baru kalah perang dari penjajah akibat teknologi mobil, mesin, pesawat, dan sebagainya. Negara lain melirik dan menyatakan salut dengan negara penemu dan prmerkaya teknologi. Mereka salut dengan Jepang, Korea, AS, Jerman, dan sebagainya.

Orang kaya karena luas tanah dikalahkan oleh orang yang punya teknologi. Ia hanya punya traktor tetapi kekayaannya mengalahkan orang yang punya tanah luas. Berbondong-bondonglah orang melirik kehebatan teknologi. Pabrik diperbesar. Temuan baru diperkuat dengan sentuhan teknologi.

Namun, era teknologi ternyata tidak langgeng. Negara berteknologi tinggi dikalahkan oleh negara yang punya sistem. Finlandia terkenal bukan karena teknologinya tetapi karena sistem yang dibangunnya.

Orang kaya berkat teknologi disalip oleh orang yang punya sistem. Seseorang tidak punya gedung, tidak punya mobil tapi bisa kaya karena sistem. Dialah penemu sistem digital, gojek, alibaba, dan seterusnya. Tanpa kantor, akibat punya sistem, seseorang dapat penghasilan besar.

Jadi, benarlah jika Presiden Jokowi mengangkat sosok ahli sistem sebagai punggawa yang menangani pendidikan. Pendidikan adalah sebuah sistem yang dapat dimajukan dengan sistem berbasis digital. Bukan isi pendidikan saja yang perlu disistemasi tetapi manajemennya perlu sistem terbarui.

Negara hebat tentu memerlukan sistem terbarui yang berkoneksasi dengan era industri 4.0 dan masyarakat 5.0. Apalagi negara Indonesia memunyai banyak sekolah yang tersebar lintas pulau, lintas bukit, lintas daratan, lintas suku, dan sebagainya.

Pendekatan manajemen pendidikan tidak akan mampu hanya menggunakan pola konvensional dan struktural. Pola tersebut akan memerlukan dana tinggi, waktu lama, dan para pihak yang banyak. Keruwetan dan kelelahan akan terjadi. Tujuan akan terkikis oleh keruwetan dan kelelahan tersebut.

Tentu, era sistem dapat mengurai keruwetan, menyegarkan, waktu singkat. Perlu penciptaan sistem yang berbasis digitalisasi.

Era sistem itu dekat dengan kreasi dan inovasi. Pendidikan Indonesia sudah haus dengan kreasi dan inovasi pendidikan. Tibalah kini, pendidikan Indonesia dinakhodai oleh sosok yang langsung bergulat di sistem. Mendikbud baru tentu harus tetap berada di jatidiri sistem yang kreatif dan inovatif. Ini saatnya.##

(K’Zhe)

Continue Reading

Berita Utama

Copyright © 2019. Humas Kwarda Banten.

New offer: This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss